Best Day So Far – Oaseksplorasi day 2

Mataku berkedip terbuka melihat sesosok bayangan berjalan melangkahi kakiku,

“Dindun?” kupanggil, menggulingkan badan ke arah kiri

Ternyata benar, itu Adinda yang mau sholat tahajud dan kemudian subuh. Aku mengecek jam tanganku dan masyaallah, baru jam 4. Mau tidur lagi, juga gak bisa karena aku mesti sholat setelah dinda. Aku mulai duduk dan menggosok-gosok muka, berusaha menyadarkan diriku.

Aku melihat ke arah Yla dan Agla yang masih tidur nyenyak, lalu berdiri untuk ke kamar mandi mengambil wudhu. Kalau menggosok-gosok muka tadi tidak bisa menyadarkanku, sudah bisa dipastikan air payau yang kugunakan untuk wudhu itu bisa. Air di Pulau Harapan adalah salah satu hal yang membuatku kaget kemarin ketika pertama sampai, tapi adaptasi kulakukan dengan cepat.

Sholat kulaksanakan kemudian Adinda membangunkan Aglaya untuk sholat. Agla bangun dengan rengekan yang masih mengantuk tapi nurut.

Kami semua beberes dan pergi menemui bapak ibu untuk sarapan.

Karena adanya pergantian jadwal, niat kami yang harusnya mengerjakan riset untuk output pada hari kedua, malah diundur jadi hari ketiga. Jadi hari ini, kami bermain full day-full power.

Tepat pukul 5 pagi kami sarapan dengan bapak ibu, bisa dibayangin aja sarapan jam 5 pagi yang biasanya sarapan jam 7-8 an. Beberapa dari kami terlihat ngantuk sambil menyuap nasi goreng bikinan ibu. Kemarin memang sudah dikabarkan oleh kakak mentor untuk tolong menyiapkan sarapan jam 5 pagi.

Bapak menanyakan jadwal untuk hari ini dan kembali mengingatkan kita bahwa beliau dan ibu akan membuat kerupuk di hari ketiga, disini Agla meminta izin untuk meliput proses pembuatan kerupuk ikan kepada bapak ibu dan mereka membolehkan.

Kami mengobrol panjang pagi ini, bapak dan ibu berulang kali mengatakan tentang sekolah alam yang juga mengunjungi mereka seperti kami. Tak terasa sudah pukul 6 pagi, rasanya ingin mengobrol aja terus-terusan. Kami pamit untuk bersiap-siap sekaligus pergi seharian.

Kita semua berjanjian untuk berkumpul di dermaga Pulau Harapan pada pukul 7 pagi untuk berangkat ke Pulau Kayu Angin Bira dan menjalankan aktivitas pertama. Sehingga pukul 6:35 kami langsung berangkat dari rumah.


POTATO AHAHAHAHAH

Ketika sampai di tempat pertemuan, terlihat teman-teman yang lain sedang berebutan ayunan yang memang cuma ada dua. Ada yang main di taman yang jauh dengan ayunan yang sedikit lebih modern (kenapa ga ayunan gerobak aja yega) . 

Mentor-mentor pun akhirnya datang, lalu kami langsung kuy naik perahu ke Pulau Kayu Angin Bira untuk membersihkan pulaunya dari sampah-sampah. Kami mengenakan pelampung biru yang membuat kami terlihat tangguh dari aslinya, dan satu persatu menaiki perahu yang butuh balance.

Lontaran candaan di lempar ke kami yang badannya agak lebih belikuk untuk jangan duduk di satu sisi, alhamdulillah saya dregen kita gapapah. Sejalannya kapal, aku tergiur untuk menggapai ombak-ombak kecil tapi ternyata perahunya cukup tinggi juga dan aku tidak ingin perahunya jomplang jika aku bersikeras.

Lucunya, ketika duduk, semuanya terlihat seperti tenggelam di dalam pelampung. Ratri dan Katya mentertawakanku yang terlihat seperti potato. Ya lagian postur dudukku memang bukan yang terbaik D:

 

DSCF1512


“Kenapa ada sepatu utuh disini?”

We were ecstatic to set out foor on this island yang kita bisa liat dari jauh itu cantik banget. Ombak kecil yang menyapu  pasir putih di pantainya, kami tidak sabar!

Karena di pulau tidak memiliki semacam pemberhentian kapal agar kami bisa turun dengan aman, perahu hanya berhenti diujung pulau dan kami melompat dari perahu. The adrenaline! Aku udah lama gak lompat sejauh itu, maklum anak rumahan 25/8.

Kita dikumpulkan untuk diberikan arahan dan dijelaskan bahwa ada beberapa tempat bertelur penyu di Pulau Kayu Angin Bira ini! Sayangnya banyak sampah yang terbawa oleh ombak yang akhirnya nyangkut di pulau. Jadi kami dengan senang hati membereskannya sedikit demi sedikit.

23157074_10214925401868577_4422929376605817320_o
Credit to: Kak Sari

Kantong berjaring-jaring mulai didistribusikan diantara kami, bagi yang sudah membawa karung dari bapak ibu inangnya dibolehkan untuk langsung mulai mengumpulkan sampah. Aku dan Yla berbagi satu kantong dan mulai menyusuri sisi-sisi pulau dekat tanaman.
It was ridiculous!

Kaleng dan botol, kemudian yang paling sering styrofoam! Aku sendiri kesal melihatnya. Oh jangan sampai aku mulai tentang berapa banyak bohlam lampu yang aku temukan disitu, mungkin ada kisah yang aku gak tau tentang bohlam lampu jika kamu melemparnya ke laut, lampu rumahmu akan selalu nyala. Well guess what, you can do that too by paying your electric bills! For god sake.

Entah pada waktu mana aku mulai menggunakan topiku dan melepas sendalku untuk merasakan pasir yang sebenarnya aku kurang suka, tapi vacation mode harus on untuk hari bersenang-senang seperti ini.

Aku bermain di pesisir pantainya sedikit dengan ombak lembutnya, meninggalkan hanya jejak dibelakangku.

Jangan salah sangka, saya sudah kerja lho. Ikut ngumpulin sampah kok, tenang aja :>

Setelah mengumpulkan karung-karung sampah, kami ditunjukkan ke salah satu bekas sarang penyu, tempat dia bertelur. Sangat menarik, walaupun saking ramainya, aku tidak bisa melihat dan hanya melihatnya melalui foto-foto. Setidaknya aku pernah melihatnya.

Kita langsung cus cabut naik kapal lagi yang agak lebih challenging karena sekarang kita harus mendaki ke kapal yang lebih tinggi. Aku menggenakan sendalku dan naik ke kapal dengan bantuan Zaky.

Perjalanan ke spot snorkeling dimulai, kami kembali menjadi diri potato masing-masing. Kali ini aku berani untuk menggapai lipatan-lipatan ombak di sisi perahu, wuaahhh rasanya enak banget 😀

Sampai di spot snorkeling, teman-teman langsung sibuk was wus menyiapkan alat-alat snorkeling. Aku dari awal memang memutuskan untuk tidak snorkeling akibat malam hari pertama yang meninggalkanku sedikit demam dan bersin-bersin. Kak Lala sebagai mentorku sempat khawatir dan menyarankan aku tinggal aja untuk hari kedua, tapi untungnya aku ikut!

Container berisi fin dan snorkle sudah diobrak-abrik oleh yang lain untuk mencari ukuran kaki mereka, aku dan Katya membantu mereka sambil sunblock milikku yang dioper kesana sini.

DSCF1515.JPG

Abis itu mereka langsung byur masuk ke laut. Terdengar wah-woh disana sini sebelum mereka memulai aktivitas dengan pembimbing. Aku yang sekarang bertugas jadi fotografer karena bahkan mentor-mentornya ikut nyemplung dengan sigap mulai mengambil beberapa foto.

This slideshow requires JavaScript.


Ayunan tinggi dari dahan pohon

Setelah seru-seruan mari kita lihat agenda selanjutnya, oh ya, sepertinya selanjutnya untuk 5 jam kedepan agendanya adalah seru yang abis-abisan!

Kita menyantap makan siang di pulau yang beda lagi, namanya pulau perak. Kami makan dengan kotak makan yang dari awal memang kami bawa dalam langkah zero-waste, sama halnya dengan botol minuman. Selesainya makan kita langsung full power bermain dengan air dan pasir.

Baju renang mereka yang mulai mengering sekarang basah lagi dan bahkan lebih kotor dari sebelumnya karena sekarang ada pasir yang sengaja dimasukkan oleh yang lain waakkakakak.

Salah satu yang paling indah dari pulau ini selain dari airnya yang bersih dan ombaknya yang tenang, adalah ayunan-ayunan tinggi dari dahan pohon. Bukan hanya satu jenis tapi ada dua jenis! satunya yang biasa dan satu lagi yang hanya dengan tongkat.

 

Aku dengan girang menaiki salah satu ayunan itu, walaupun agak miring. Aku berusaha untuk sekering mungkin selagi bermain di pantai bersama yang lain. Teman-teman mulai menggali lubang di pasir dan membuat bendungan, bahkan mentor kami Kak Opal ikut! ahahahahah. Disini Kak Opal terlihat sangat bahagia, bahagia terus ya kak :”>

23157392_10155025975727876_4285312668781212035_o
Credit to: Kak Lini

Aku sempat mengajak Katyusha, teman keringku untuk mengadekan adegan dari anime Naruto dimana mereka berlari gaya ninja. Dia setuju dong, my partner in crime dan kita langsung mulai dengan bantuan videographer Ratri dan countdown assistant Jaki.

Namun sebelum aku bercerita tentang yang hepi hepi lagi, izinkan saya menghighlight beberapa oaseksplorer yang terkapar tiada daya…. di dalam pasir! Sejenak keheningannya di mohon untuk mereka yang sudah tumbang.


Setelah puas bermain-main… Ya kita main main lagi dong! Waktu main kami terus ditambah oleh mentor, kami memang dimanja pada hari ini :>

Serasa ingin tepar, kita kembali menaiki perahu dan balik ke Pulau Harapan.

 


Plan untuk besok

Sampai di rumah, mereka lagi-lagi bukannya lompat ke tempat tidur head first tapi menulis logbook. Salutnya aku :”)

Ketika meet up dengan tim eksplorasiku dan Kak Lala, beliau nanya planku untuk besok.

Dan ya besok kita mulai “berbelanja” untuk “bahan” output kita 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s