Keliling Pulau Satu Setengah Kali -Oaseksplorasi day 1 

“Kak ini kita mau kemana?” Seru ayahku dalam mobil, ada sedikit kekesalan yang terdengar dari suaranya. Pertanyaan itu membuatku tersadar dari bengonganku dan kembali fokus ke google map yang aktif dihp.

“Ini belok kanan, eh uh….” aku terdiam, meneliti ulang rute perjalanan.

“Aku gatau deng yah”

Ayah tertawa kecil, fuhhh nafasku tertahan. Aku akhirnya nekat mengikuti jalan yang kelihatannya one way. Alhamdulillah ternyata bukan :”)

Sesampainya di Pelabuhan Sunda Kelapa, ada rasa ingin bersorak riang karena ini sudah pasti dekat. Oh betapa salahnya aku, bolak balik melewati jalan dan menanya pada satpam yang akhirnya berbuah karena kami berhasil sampai di kapal Sabuk Nusantara 66.

Begitu keluar dari mobil, aku dapat sapaan dari Aza dan Alev yang sibuk memotret diluar kapal. Aku mengajak mereka membantuku membawa oleh2 bejibun untuk warga Pulau Harapan dan akhirnya masuk untuk melapor.

Dalam kapalnya cantik dan bersih, ac berjalan didalamnya membuatku merasa aman dan sejuk untuk perjalanan enam jam nanti. Aku langsung melihat segerombolan anak remaja yang merupakan teman2ku!

Beberapa dari mereka menyapaku sedangkan yang lain sibuk mulai logbook. Aku menghentikan mereka sebelum mereka mengajak bercanda dan keluar untuk mengambil bawaanku yang lain. Setelah sibuk aku bolak balik memindahkan barang dari mobil, aku memeluk ayahku dan pamit mau pergi eksplorasi 2017.

Ketika kembali, semua kursi sudah kosong, tapi aku tidak menghiraukan itu. Aku asyik berbincang dengan Ratri tentang eksplorasi. Eksplorasi pertama untuk kita berdua. Sempat terbengong karena ini adalah hasil dari kerja keras kita di OFEST kemarin yang buahnya akan segera dipetik sekarang.

Aku bercanda tentang mungkin Katyusha enggak sampe on time, jadinya gaikut eksplorasi. Katyusha memang telat, baru berangkat tadi waktu aku berangkat, sedangkan rumahnya di Bogor. Untungnya dia dateng, walaupun belakangan.


Oh my lord here we go again

Sebelum eksplorasi dimulai, Kak Lala membuka eksplorasi dengan peraturan yang berlaku dan bagaimana kita harus menjaga diri dan menjaga sesama oaseksplorer. Doa-doa sesuai keagamaan masing2 pun kita lakukan, dalam harapan eksplorasi 2017 sukses.

DSCN0078
Credit to: Kaysan

aku yang tidak kebagian kursi kemudian dikasih tau kalo ada tempat tidur di lantai bawah, obviously dengan kilat aku meluncur dengan Ratri dan Katyusha. Tas berat orange yang kubawa, kubanting ke tempat tidur dan aku cabut untuk bermain dengan yang lain.Ada sekitar setengah sampai satu jam kita menunggu kapal berjalan, dan satu jam kemudian, para oaseksplorer sudah mulai mondar-mandir di kapal. Beberapa dari mereka sedang mewawancarai penumpang kapal, ada yang sudah mewawancarai penumpang, ada yang nanyain kalau kita udah wawancara atau belum.

Aku meringis, oh lord here we go again, batinku. Mengingat kembali usahaku untuk mewawancarai penjual di pasar tebet sebagai pra-tugas eksplorasi. The awkwardness! hieee merinding ngebayanginnya :”)

Memutuskan untuk melupakan tugas kapal untuk sementara, aku, Katyusha dan Ratri beranjak keluar kapal untuk mengambil foto-foto. Which resulted these beautiful pieces:

 

 

 

Setelah itu aku kabur dari sinar matahari yang terik untuk melindungi vitiligo di dahiku dan duduk di salah satu platform yang terteduh sambil melihat pemandangan. Angin sepoi-sepoi seakan membasuh mukaku, ya gitu aja lah poetiknya ya. Kebetulan ada penumpang yang juga duduk di ujung platform, aku lupa bagaimana prosesnya, tapi pokoknya pada akhirnya aku nimbrung di percakapan antara Pak Antonotas, Pak Budi, Pak Ekel, Yudhis dan Zaky.

I know what you’re thinking, but listen. I was a legitimate part of the conversation, it wouldn’t be able to go on without my nod and oohs-ahhs, okay. 

Long story short saya jadinya mewawancarai mereka, in spirit and in oohs and ahhs. Sayangnya aku tidak membawa buku terlalu tampanku yang masih duduk manis di dalam tas berat itu, jadi aku catat aja di otak dalam harapan aku bisa menulis semuanya kembali ketika sampai di rumah inang nanti.

Tapi sepertinya setelah beberapa kali aku melontarkan kepalaku kebelakang ketika tertawa dan kejedot pintu kapal yang besinya tebel subahanallah, mungkin ada beberapa sel otak baru dari situ sehingga aku tidak ingat banyak :”)

Yang aku ingat hanya bahwa ketiga bapak-bapak tersebut merupakan bagian dari komunitas kekristenan yang sedang berjalan-jalan untuk sehari ke Pulau Pramuka.

Salah seorang dari komunitas tersebut ada yang bener-bener membekas di ingatanku, ibu yang aku gatau namanya siapa. Serius! teman-temanku yang lain juga gatau dan bilang bahwa beliau sendiri yang tidak ingin memberi tau namanya.

Aku tidak berani mewawancarainya walaupun dia adalah penumpang yang paling ramah dengan kami, beliau bahkan menanyakan tentang homeschooling dan sempat memberi ceramah tentang ketuhanan kepada beberapa dari temanku.

Ibu baik hati ini adalah satu-satunya penumpang yang aku sapa ketika dia mau turun ke Pulau Pramuka.

Ketika masuk kedalam kapal, kakak-kakak mentor mengingatkan kami untuk sholat Dzuhur karena sebentar lagi sampai di Pulau Kelapa!


“AiRnYa IjO BaNGEt gAeS!!”

Sesampainya di Pulau Kelapa, aku merasa eksplorasi baru benar-benar dimulai. Angin laut yang menyapa, air hijau kebiruan dan tas berat di punggungku. Sedari Pulau Pramuka tadi aku tidak bisa diam tentang air toska cantik itu ke teman-temanku, maklum anak kota yang seneng air laut bersih disini :”)

Kita langsung cus cabut jalan kaki ke Pulau Harapan, tapi mampir dulu ke SPMB. Aku sering melongo melihat pemandangan yang seperti perdesaan biasa, tapi kalau diliat keluar indahnya masyaallah. Tjakep bosq. AIRNYA TUH IJO GAES.

Sesampainya di SPMB kami disambut dengan deretan guru-guru yang kami salam dan kemudian duduk di bangku dan meja mungil untuk menyantap jus yang disiapkan. Aku terpaksa duduk disamping segelas jus yang ketumpahan, tapi aku tidak ingin merepotkan. Jusnya bener-bener enak dan nyegerin abis ngebawa tas berat. Terima kasih!

Gak mau ngerepotin lama-lama, kita dengan sigap lanjut berjalan lagi menuju Taman Nasional Kepulauan Seribu di Pulau Harapan. Teman-teman lain ada yang sudah basah berkeringat membawa bawaan, mereka segera duduk dan menjadi satu dengan kursi disana. Beberapa mulai mengipas menggunakan logbook mereka, ada juga yang memakai tangan. Aku sebenarnya gak tau mau ngapain disini, serius! Aku yang paling clueless tentang rencana perjalanan.

Kemudian beberapa ibu-ibu mulai memindahkan makanan dari luar ke meja yang ada di dalam. Kak lala tiba-tiba memanggilku untuk menunjukkan bahwa ada gerobak didepan. Ya, gerobak!

DSCF1477

wakakakak, dengerin dulu. Aku topik output untuk diteliti di Pulau Harapan adalah gerobak khas Pulau Harapan! Bentuknya pendek dan pipih dan gagangnya lebih tinggi dari tukang bakso di Jakarta. Kak Lala mengajak untuk mengambil foto gerobak, ya alhasil itu foto diatas.

Aku juga dapat tips membantu dari Kak Lini tentang memotret suatu benda tertentu dengan pura-pura memotret sekeliling (a.k.a turis mode) dan kemudian motret gerobak. It was so helpful bahkan aku cuman sempet menerapkannya sekali karena dikali lain aku lupa. Heuhueeuhe makasih kak :p

Nasi, Sayur asem, tempe bacem dan ikan yang aku gatau jenisnya apa sudah siap disantap di meja. Kami dengan gesit mengambil piring dan makan.

23117003_10209549147640102_2871425895661084466_o
Credit to: Kak Anne

Selesai makan, kita di arahkan untuk berkumpul di depan kantornya untuk diperkenalkan ke orang tua inang kami di Pulau Harapan oleh kakak yang jaman now banget deeh, namanya Kak Niar.

Satu persatu tim teman-temanku mulai dipanggil dan diperkenalkan ke ibu atau bapak inangnya. Tapi loh? Timku belom :<

Turns out Bapak dan Ibu inangku masih dirumah mereka yang akhirnya kami ditunjukkan jalannya oleh Bu Sulha– ibu dari Katyusha, Anja dan Abel. Kami langsung diajak menaruh barang dulu di homestay milik Keluarga inangku yang berada tepat dibelakang rumah mereka!

Ketika masuk, kamarnya cukup luas dan ada AC pula! Wah, sesuatu yang aku tidak menyangka akanku nikmati di Pulau Harapan, karena biasanya memang tidak ada. Kami bahkan memiliki ruang tengah sendiri, TV, Kamar mandi, kamar tidur dan dua kasur. Ada rasa campur aduk antara senang dan sedih karena dengan begitu, kita gak bisa ngobrol basa basi dengan bapak ibu.

Seingatku, Kak Anne yang ikut dengan kami untuk mengecek juga menyinggung tentang bagaimana kita harus berinteraksi dengan bapak ibu, tapi ya gapapah, jalanin aja yekan :>


Astaghfirullah istirahat aja yok…?

Nah disini biasanya kalau aku jalan-jalan dengan keluargaku, pasti kami memilih tepar di kamar saja untuk sisa hari karena emang udah sore. Tapi tidak sekarang, tim ku yang lain sudah gatel ingin segera keluar dan berkeliling.

“Serius kalian mau langsung cabut?” aku tanya

Ini bocah-bocah pada gacape apa jalan kaki tadi, langsung mau cabut 

Ya mikirnya bukan “bocah” si, tapi ya you get the point. Aku bingung mereka masih full of energy. Ternyata banyak tim lain yang udah keliaran juga. Astaghfirullah.

Salah satu tim yang udah keliaran itu timnya Ceca, aku pikir yasudah lah,,, gaada salahnya juga keliling-keliling. Siapa tau nemu gerobak, kekekek just kidding aku cuman mau liat pulaunya yang bisa dikelilingin dalam waktu setengah jam itu. Aku tenang aja asalkan ada teman sekelompokku yang tau jalan kerumah, karena aku sama sekali belom hapal.

Kita mulai jalan-jalan berkeliling sebelom akhirnya bertemu rombongan lebih lengkap yang diarahin sama Yudhis, aku dengan dramartis teriak

“RATRIIIII!!!” 

dan Ratri juga dengan dramatis teriak,

“DIPOOOOONGGG”

Dia bahkan mulai lari, aku terpaksa lari juga dong dan kita pelukan seakan dua sahabat yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Lalu kita cabut dengan rombongan hampir full kecuali tim katyusha, mengelilingi pulau sekali lagi.


ADA SUMUR INDOORNYA MASA

Sesampainya dirumah sudah maghrib, setelah sholat dan beberes timku cabut langsung ke rumah bapak ibu di sebelah dan niatnya ingin membantu menyiapkan makan malam.

Tapi ketika masuk, wangi enak sudah tercium. Wah sudah selesai rupanya, jadinya kita makan bersama. Ya disebut makan “bersama” juga kurang tepat, sepertinya bapak ibu sudah makan jadi beliau hanya melihat kita makan. Ajakan kami untuk makan bersama juga sudah ditolahk beberapa kali. Yowes, kami pikir. Gaenak makanannya didiemin ajah, kita makan.

Disela-sela suapan nasi kami mengobrol dengan Pak Nurhaji, pembuat kerupuk ikan yang menjadi khasnya Pulau Harapan. Beliau mengajak kami membuat kerupuk ikan bersamanya besok lusa dan menanyakan jadwal kita untuk besok. Keluargaku sangat hangat dan bapak ibu juga tampaknya senang diajak ngobrol.

Kami membantu mencuci piring yang habis kami gunakan, tapi kita kaget. INI KOK ADA SUMUR INDOORNYA. Kami langsung girang, tidak sabar mencoba menimba air dari sumur itu dengan hanya ember dan tali yang diikat pada ember.

Awal mencoba, Yla yang memegang talinya dan aku yang menjatuhkan embernya. Tapi karena aku kekencengan, alhasil talinya ikut masuk juga. WAWKAKKWAK, kita panik tapi gamau ngerepotin bapak ibu. Yla yang badannya panjang nyobain masuk kedalem sumur untuk menggapai ember, tapi hasilnya nihil. Berbagai macam cara kita coba, dari pake ember ini itu, sampai akhirnya Agla menemukan kayu yang ada semacam kail diujungnya, cocok untuk mengambil ember yang nyungsep.

Alhamdulillah bisa, kita lanjut nyuci piring dan pamit pulang.

Kami kembali ke kamar kami untuk mengerjakan logbook sebelum jam 8 nanti bertemu mentor. Tim ini agak aneh, dua dari kami berasal dari tim yang beda. Alasannya karena tim eksplorasi kami terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan, sehingga rumahnya harus perempuan dengan perempuan.

Pertemuan mentor untuk timku dan Adinda berada di rumah inang Kaysan dan Naufal, sedangkan Yla dan Agla dirumah inang kami. Aku yang belom sempat menebalkan logbook yang masih kutulis dengan pensil, diminta Kak Lala untuk menebalkannya esok hari. Kemudian Kak Lala juga menanyakan tentang plan outputku.

Fuh, ini dia. Kalau ditanya sekarang, sepulang eksplorasi apakah aku tau mau ngapain disana, jawabannya gatau. Bener deh, masih ga kebayang mau output membahas apa dari gerobak.

Ya abis itu sisanya ga menarik, kita balik kerumah ngerjain logbook dan tidur. Yei :>

 

 

Cover Credit to: Kak Anne

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s