Like a tumbleweed rollin down a hill – Oaseksplorasi day 3

Nanti aja deh

5 menit lagi paling bisa

iya paling gapapa

Gitu ajah terus sampai akhirnya kita semua bangun kesiangan, bahkan Dinda (nax rajyn) habis sholat langsung nemplok di tempat tidur lagi. Akibat pergantian jadwal, kita menjadi lebih terkuras energinya dari semestinya dan itu buruk. Apa lagi hari ini adalah hari “bebas” yang maksudnya waktu mencari bahan output tapi dimanisin gituuh.

Aku menggerutu sambil bersiap-siap, ingin rasanya berkeliling nanti siangan saja. Tapi aku tahu banyak gerobak waktu pagi pagi gini. Aku mendorong diriku untuk menggunakan sendal jepit yang baru kukeluarkan dari tas dan mulai jalan kerumah bapak ibu untuk sarapan.

Disini aku lupa, segalanya aku lupa. Mau kita makan apa, ngobrolin apa sampai kembali untuk ke kamar jam berapa, aku benar benar lupa. Pokoknya bapak sempat menanyakan Agla tentang proses wawancara besok.

Balik ke kamar, hampir semua spontan balik golek-golekan diatas kasur yang masih belum kita pindahkan dari ruang tengah. Kami memang dari malam pertama memilih tidur di ruang tengah karena disitu AC dipasang, kamar tidur yang asli tidak memiliki AC.

Satu persatu kita mulai mandi dan langsung cus cabut mencari narasumber berdasarkan topik output masing-masing.


Where things go downhill

Quick explanation, aku baru sadar belum pernah menjelaskan output itu apa, jadi langsung aja ya 🙂

Output itu adalah hasil dari perjalanan kami ke Pulau Harapan. Topiknya bebas, saking bebasnya topik gerobak milikku aja diperbolehkan. Ada yang topiknya air bersih, pohon mangrove, lalu ada yang meliputi kegiatan beberapa warga. Berbagai macam!

Bentuk output juga bebas, tergantung interest masing-masing anak; video, art book, tulisan blog, bebas! 

Hari ketiga ini, adalah hari dimana kita mengumpulkan materi yang nantinya akan menjadi output. Ya it’s all good and dandy until kalian menjadi saya, yang materi output aja sebenarnya gak jelas =^=;

Whatever, I can wing it. Tapi yang penting dulu, mental support. 

Aku langsung cabut ke rumah Katyusha sekitar pukul tujuh mau ke delapan, memang yang paling telat keluar dari rumah sedangkan teman-teman serumah sudah menghilang entah kemana.

Berjalan, berjalan, selangkah didepan langkah sebelumnya dan aku nyasar. Emang begini jadinya kalau sok tau jalan, untung ketemu dengan tim Tata, Ratri dan Syifa yang baru jalan. Mengatakan aku ingin ke rumah Katya, Tata langsung bingung.

“lah rumah katya itu tadi di belokan” Alhasil aku ditunjukkan jalan sama Tata dan mereka pamit mau ke dermaga.

“Misi” aku ucapkan, bersiap untuk menanya kemana Katyusha berada. Ternyata malah disambut oleh Anja dan Abel, teman serumahnya lagi menunggu sarapan. Aku kaget sebenarknya, di rumahku biasanya sudah jalan pukul setengah tujuh, eh mereka disini mau sarapan. Aku langsung duduk saja sambil menunggu Katyusha yang kata mereka lagi mandi.

Disini adegan pertama kesialanku dimulai, aku mulai iseng memainkan kameraku dan melihat hasil foto hari kedua yang meninggalkan jejak manis kemarin. Katyusha kemudian datang dengan rambut yang basah dan kemudian duduk didepanku. Karena dia sudah datang, aku mematikan kameraku yang dimana aku sadar, LENSA NYA GAK BISA DIPUTER. Ini demi apapun hatiku, perutku semua udah jatoh ketemu syaiton di dalam perut bumi. Segitu sedihnya aku.

Terbayang-bayang lagi ucapan ayahku untuk menjaga kamera itu yang dia berikan kepadaku.

“Kak jangan rusak lagi ya kameranya, jangan deket-deket air laut lagi”

Ini bukan kamera pertama yang aku rusak ketika bermain ke pantai, kamera satu lagi masih disimpan dalam laci ayah ibuku. Seingatku masih bisa dipakai.

Tapi ini. Ini bukan masalah kecil. Lensa yang tidak bisa diputar artinya kamera tidak bisa dimatikan. Kamera fuji yang memang cara menyalakan dan mematikannya melalu lensa. Aku langsung melapor ke Katya, sedikit ingin menangis. Dia mulai berusaha memaksa putar lensanya. Jujur, itu aku takut. Katyusha itu macem hulk di oase, orang yang kenal dia, pasti tahu.

Aku mengalami breakdown, literally pengen nangis dan meringkuk jadi bola aja diujung ruangan. Either takut pulang atau mau pulang untuk minta maaf sama ayah ibu. Anja dan Abel menyarankan aku untuk coba tanya Aza– camera expert. Mereka berusaha menenangkan aku dengan mengatakan bahwa Aza itu pernah ngebetulin apaaa gitu, lupa :9

Selesai Katyusha makan, kita berdua langsung mencari Aza yang lagi di rumah Yudhis. Di tengah jalan, Fattah ikut dengan kami.

Dan ternyata, bahkan Aza tidak mengerti kenapa kameraku berulah seperti ini. Dia sempat memberi teori yang memberiku pencerahan “mungkin tadi lensanya kebentur sesuatu terus ada yang kegeser didalem” 

Astaghfirullah, mungkin Aza benar. Langsung terlintas di kepalaku tadi ketika keluar kamar dengan kasur yang belum di pindahkan dan sendal yang sudah terpasang sehingga aku berjalan dekat-dekat dinding dengan kamera yang aku selempangkan. Masyaallah makin takut aku dengan kepulangan esok hari.

Aku berterimakasih ke Aza lalu memulai pencarian output dengan Katyusha. Berusaha menaruh fakta bahwa kameraku rusak di ujung paling belakang kepala.


“Berbelanja” untuk output

Tujuan pertama adalah, tujuan Katya. Untuk mewawancarai kepala sekolah SD di Pulau Harapan. Sampainya di SD tersebut, kami berpikir dua kali untuk masuk. Karena tidak ada satpam penunggu di gerbangnya, kita memutuskan untuk menunggu siapa pun untuk keluar dan meminta izin untuk masuk. Kebetulan ada mas-mas yang keluar dan kami mendapat izin dan juga lokasi kepala sekolah dari beliau. Makasih, mas :>

Kita akhirnya masuk dan berjalan ke tempat yang sudah ditunjuk mas yang tadi, mengawali pembicaraan dengan “misi”

Bapak kepala sekolah langsung bangun dari duduknya dan mengarahkan kami ke kantornya, dia tersenyum dan mempersilahkan kita untuk duduk. Katyusha langsung menanyakan list pertanyaan yang dia sudah buat satu persatu dan menuliskan jawaban dari Bapak Husayn yang ternyata merupakan wakil kepala sekolah. Kepala sekolah yang asli adalah bapak inang Katya yang pada saat itu lagi sakit di rumah.

It was a team effort, selagi Katyusha menulis jawaban, aku mengajak ngobrol beliau. Semuanya berjalan dengan sempurna. Setelah semua sudah terjawabkan, aku dan Katya pamit kepada Pak Husayn lalu pergi keliling mencari apa lagi kalau bukan gerobak!

Eh tapi, kok… kok rasanya gak enak ya 🙂

“Kat” aku bergumam, memegang perutku “kayaknya gue dapet deh”

Best.Timing.Ever ya kan? Aku mengajak Katya untuk ke rumah Ratri yang paling dekat dari sekolah. Mumpung tadi waktu berangkat, Ratrinya lagi dirumah. Alhamdulillah masih di rumah juga ketika kami bertamu. Aku meminta softek dengan Ratri dan benar, aku datang bulan.

Aku menghela nafas, cursing under my breath lalu keluar kamar mandi dan berterima kasih kepada Ratri. Pulang kerumah, hanya untuk disambut dengan keributan di dalamnya, tersangka pelaku adalah Aza, Alev, Agla dan Fattah. Aku terpaksa bersih-bersih di sebelah banyak orang, di kamar mandi kok. Cuman ya kurang enak ketika ada banyak orang di luar :”)

Keluar kamar mandi, aku tidak melihat Katya. Aku lalu mengecek ke rumahnya lagi dan melihat Ratri bersama mereka. Kemudian kita berpisah.

Keliling, keliling, perutku tambah sakit. Aku meminta Katya untuk beristirahat sebentar di saung dekat dermaga. Aku suka sekali dengan saung-saung di Pulau Harapan. Pemandangannya indah, anginnya sejuk, bisa seharian aku habiskan disitu.

Aku juga berniat membersihkan hasil wawancara di situ, kita berdua bertukar informasi. Aku mengingat hasil wawancara Katyusha, dan Katyusha mengingat detail-detail gerobak yang aku lewatkan. Beberapa gambar gerobak juga aku bersihkan.

Beberapa saat lewat, datang Yudhis dan Zaky ke saung. Mereka menanyakan kabar output yang kujawab dengan muram. Kami mulai sibuk membersihkan catatan, terlihat Zaky yang lagi mencatat logbook (nax rajyn (2)), Katyusha yang lagi membuat sederetan pertanyaan baru dan disitu Yudhis sesekali mengajak kita bercanda yang membuyarkan fokusku. Makasi lho dhis 🙂

Syifa dan Anja menjadi pasangan ketiga untuk menghampiri saung ini, mereka duduk dan bercanda. Aku mulai berusaha fokus lagi, mumpung Yudhis udah punya teman gabut baru :v

Aku mengambil nafas dalam-dalam dan memalingkan muka dari logbook dan melihat dua sosok mentor, Kak Lala dan Kak shanty berjalan menuju kita.

“eh, eh ada mentor dateng kat” aku mengulum mengingatkan Katyusha. Kak Shanty yang sepertinya melihatku melakukan itu langsung mentertawakan kami sambil mengulang kata-kataku.

“awas ada mentor dateng” kata beliau, aku cuman tertawa kering saja. Berharap Kak Lala gak nanya proses output.

Tapi ya mau bagaimana pun Kak Lala mentorku, pasti beliau harus nanya “berapa gerobak yang sudah aku temukan hari ini”

Aku hanya menunjukkan catatanku sebagai jawaban, sebelum dia mulai membahas outputku. Beliau dipanggil untuk membuka pintu untuk homestay mentor karena makan siang hendak dihidangkan. Aku diajak ikut sambil ngobrol di jalan. Sampainya di homestay, aku memperhatikan cara Kak Lala berinteraksi dengan pemilik homestay. Berusaha meresap apapun gerak gerik dan cara Kak Lala melanjutkan pembicaraan dengan mulus.

Sama seperti kemarin malam ketika di rumah Kaysan dan Naufal, Ibu inang mereka menitipkan pempek ikan selagi kita berdiskusi. Kak Lala dengan sigap mengajak makan bersama saja di meja tepat depan rumah mereka. Malam itu tentram sekali, airnya yang tenang, pempek yang sedikit pedas, dan Bapak inang Kaysan yang sedang berceloteh dengan Kak Lala tentang mangrove– topik output Adinda. Kebetulan Bapak ini bagian dari komunitas perkembang biakan flora di Pulau Harapan seperti terumbu karang dan mangrove. Perbincangan malam itu sangat menarik bagiku 🙂

Setelah selesai dengan urusan homestay, Kak Lala melanjutkan pembicaraan yang tadi. Satu tips dari Kak Lala yang masih menempel sampai aku pulang adalah untuk menanyakan apa yang tidak bisa aku lihat secara langsung. Sangat berguna untuk sisa eksplorasi.

Aku pamit ke Kak Lala dan balik ke saung dimana Katyusha sedang berbincang dengan Kak Shanty. Katya sendiri mengatakan setelah kami berpisah dengan Kak Shanty bahwa dia mendapat pencerahan dari beliau. Untunglah, setidaknya kita dari yang tidak tau jadi tidak tau sedikit. Eheheheh.

23119906_10209549206481573_3383692449832675604_o
Menjelajah (credit to: Kak Anne)

Kita keliling pulau lagi, aku mendapatkan beberapa foto gerobak tanpa mewawancara pemiliknya. Sepertinya di saat ini aku sudah berkeputusan untuk fokus ke desain gerobak kebanding yang tadi fokus ke pemilik dan fungsinya juga. Aku mengajak Katyusha untuk pulang ke rumahnya karena aku ingin mewawancarai ibu inangnya yang juga memiliki gerobak mungil, sekalian dia mau makan siang.

Sampai di sana, terlihat Bu Sulha– ibu inang Katyusha masih sibuk membuat kerupuk ikan. Selain memiliki warung, Bu Sulha juga merupakan pembuat kerupuk ikan. Aku mulai nanya-nanya dengan Bu Sulha selagi Katya menunggu kita selesai agar dia bisa makan.

Aku tidak niat pulang dan makan, perutku sakit sehingga aku tidak nafsu makan. Aku cuman meminta sedikit dari makanan Katyusha supaya aku tidak terlalu lemas saja.

Habis makan, aku berterima kasih kepada Bu Sulha dan kita pamit untuk keliling-keliling lagi niatnya mencari SMP yang katanya ada di Pulau Harapan. Setelah bertanya-tanya kepada beberapa penduduk, kita akhirnya memutuskan untuk pergi ke TK Paut? Paud? aku kurang ngerti. Semacam TK biasa mungkin?

Berjalan, berjalan mengikuti arahan tukan siomay akhirnya kita sampai ke jalan buntu yang berakhir pada sekolah. Sekolah ini terlihat seperti SMP tapi dari ucapan penduduk disekitar itu adalah lanjutan dari SMP. Pokoknya itu tempat yang aku tidak mengerti. Katya juga tampaknya minder untuk masuk karena kelihatannya, kita berada di pintu masuk belakang (?)

Kita berputar 360 derajat dan balik arah menuju saung lagi karena aku sudah tidak tahan berdiri karena perutku sakit. Sampai di saung, aku malah teringat satu gerobak yang digunakan sebagai penjemur baju dan mengajak Katyusha untuk menemaniku kesana.

Di jalan ke sana, kita ketemu dengan Kak Sari yang mengajak masuk ke homestay mentor.


Beli yok!!

Disitu Kak Sari mulai menanya Katya tentang proses outputnya. Kita menghabiskan cukup banyak waktu disitu sampai Kak Lala dan Kak Shanty datang. Kita langsung pamit, Kak Lala sempat memberi info tentang Ibu baik hati pemilik gerobak perabotan bernama Ibu Mursadah melalui foto dari handphonenya. Kak Lala tampak senang ketika menceritakan tentang beliau karena tadi Kak Lala diizinkan mencoba mendorong gerobak.

Ketika kita sudah mau keluar, Katyusha dipanggil masuk lagi bentar untuk mendapat saran dari Kak Shanty. Aku yang malas membuka sandal akhirnya menunggu saja di pagar, tiba-tiba aku melihat sesosok yang aku kenal.

Gerobak Bu Mursadah!

bu mursadah
Cantik kan Bu Mursadah? (credit to: Kak Lala)

Warnanya yang hijau toska sudah aku hapalkan dari foto Kak Lala. Aku menunggu katya, merasa agak wos was wes khawatir akan lewat begitu saja. Disinilah aku pertama kali memulai sebuah wawancara. Aku menyapa Bu Mursadah dan Pak Madin dibelakangnya. Ibu sempat ingin memberhentikan gerobaknya, tapi karena aku tidak ingin merepotkan, aku sarankan sambil jalan aja.

Setelah dua pertanyaan lewat Bu Mursadah akhirnya berhenti dan duduk.

“gak papah kok, bentar duduk aja sambil ngobrol”

Aku lanjut menanyakan sisa pertanyaanku dan karena kepo, aku ingin mencoba mendorong gerobak juga. Ibu Mursadah hanya tertawa mendengarnya sebelum membolehkan kami.

Katyusha aku ajak mendorong gerobak juga, Bapak sempat terdengar khawatir karena gerobaknya tampak lebih berat, aku meyakinkan mereka bahwa Katyusha kuat. Lantas kita berdua mendorong sepasang gerobak di pesisir Pulau Harapan.

“Lagi ngapain dek?” Sekumpulan bapak-bapak di saung menyapa kami, mereka cekikikan melihat kami anak-anak mendorong gerobak.

“Lagi jualan pak, beli yuk!” Aku berseru dengan candaan, dan mungkin sedikit harapan mereka ingin membeli.

Kita lanjut berjalan, berpapasan dengan teman-teman yang lagi di saung biasa kami. Mereka tidak lupa untuk menyapa kami, beberapa dari mereka tertawa.

“Ngapain div?” Tanya Aza, dia langsung nyamperin kita

“Lagi jualaaaann, beli gaes beli!” Aku senyum,

Akhirnya kita berhenti di saung selanjutnya, Bapak Ibu ingin beristirahat disitu ucap mereka. Disitu ada beberapa penjual yang mendatangi mereka, sesekali Ibu bercerita tentang pengalaman dia di Pulau Harapan, keseharian beliau dan bapak yang menyeberangi pulau kelapa kemudian keliling pulau harapan. Kita bahkan diajak kerumahnya di Pulau Panjang kapan-kapan! Pasti Pak, Bu ❤

Jika ada sumur di ladang, mari kita menumpang mandi. 
Kalau ada umurku panjang, mari kita berjumpa lagi

ihik

Kita berpamit, ingin rasanya aku membeli perbotan dari Ibu dan Bapak, tapi dompetku di rumah dan aku tidak yakin tasku yang haus tempat akan muat bahkan sepasang gayung :”)


Kalau tadi aku kesandung batu di lereng, sekarang aku berguling turun lereng.

Ya itu the highlight of my day lah. Aku merasa infoku sudah lengkap, sekarang tinggal Katyusha melengkapkan miliknya. Aku izin duduk saja di saung sembari dia berjalan sekujur pesisir pulau menanyakan ibu-ibu yang sedang ngerumpi. Sepertinya oaseksplorer sudah cukup famous sampai beberapa dari ibu itu aku dengar tahu bahwa Katyusha ingin mewawancarai mereka.

Ternyata benar, Katyusha diterima secara hangat. Mereka menunjuk Ibu yang belum di wawancara agar diwawancara oleh Katya. Setelah itu, Katyusha hilang entah kemana.

Aku akhirnya tidur di saung, mengharapkan sakit di perutku ini menghilang. Sungguh aku lelah. Saat aku buka mata, berharap disambut oleh Katyusha, eh malah disambut oleh Ceca, Yudhis, Zaky dan Kaysan yang lewat. Mereka menyempatkan waktu mereka untuk duduk di saung yang sama denganku sambil sesekali mengecek saung biasa kita yang masih ditempati mentor.

Kekeke, mereka menghindari mentor juga :v

Setelah mereka pergi, aku kembali memejamkan mata. Membuka mata sekali, Katyusha belum datang, kedua kali, tidak juga, ketiga kali, Katyusha tak kunjung datang. Mukaku terasa hangat, saking hangatnya aku merasakan bola mataku yang hangat juga.

Aku memutuskan untuk pulang, menitipkan bawaan Katyusha ke teman-teman yang sedang berkumpul di Pesisir yang ramai jajanan seperti cilung dan leker– tempat hang out sore kami.

Usai menitip barang ke Anja aku pulang ke rumah, tampak piring-piring nasi dan lauk yang belum sempat dicuci oleh teman serumah yang lain tadi siang. Aku berdecak kesal, kenapa mereka tidak menyempatkan cuci piring?

Tapi aku terlalu lelah untuk kesal, aku langsung berbaring di tempat tidur berusaha memejamkan mataku. Pintu tidak aku kunci karena teman yang lain takutnya datang, sehingga aku mengganjalnya dengan kakiku.

Berniat mengisi ulang botol minumanku dengan aqua, ternyata galon di kamar habis. Maka aku berjalan ke sebelah, sedikit lemas dan jalanan seperti bergoyang dibawah kakiku. Aku melaporkan kepada ibu bahwa galon di kamar abis dan meminta izin untuk mengambil air disini, ibu dengan senang hati mengizinkan.

“Nanti galon diisi lagi sama bapak ya” ujar ibu, aku hanya senyum dan mendengungkan sebuah iya lalu permisi untuk balik ke kamar.

Tak lama kemudian, bapak datang. Aku benar-benar tidak ada energi untuk pakai kerudung, sehingga aku membuka pintu saja langsung. Bapak menjelaskan tentang ingin mengganti galon dan meminta tolong aku menaikkan kasur.

Aku malu sebenarnya, kamar berantakan, kasur di ruang tengah. Untung dengan kasur aku berdirikan, kondisi kamar sebelah dengan piring kotornya tersembunyikan. Bapak, dibantu dengan bapak lain mengganti galonnya. Aku berterima kasih kepada Bapak karena sudah merepotkan.

“kamu kenapa? Meriang lagi?” beliau tanya melihat kondisiku, aku tersenyum tipis.

“iya pak, tapi gapapah. Ini niatnya mau tidur bentar biar segeran dikit”

Bapak bertanya apakah aku sudah makan dan aku bilang belum, tapi aku tidak nafsu makan. Bapak juga bertanya apakah aku ingin obat.

Panadol oke juga

Batinku, Bapak kebetulan nawarin panadol juga. Aku menerima tawaran bapak dan bapak segera kembali ke rumah untuk mengambil obat.

Ketika Bapak datang, aku mengambilnya dengan rasa syukur. Beliau juga bilang aku makan dahulu. Aku meyakinkan Bapak bahwa ada makanan disini dan aku juga bisa makan nasi yang masih ada sedari siang tadi. Setelah aku yakinkan, bapak pulang ke rumah dan aku makan nasi dan lauk siang tadi.

Not so bad, setidaknya aku tidak minum panadol dengan perut kosong. Aku kemudian menelan satu pil panadol dan satu pil bodrex dan berniat untuk tidur… sampai teman serumahku– Agla datang.

Dia datang untuk memberikan oleh-oleh ke keluarga Nurhaji yang terlupakan dan baru aku informasikan kepada kakak-kakak mentor siang tadi. Aku meminta tolong kepada dia untuk memberikan itu sendiri karena aku terlalu lemas. Kami juga sempat memindahkan piring kotor yang dicuci olehnya. Terima kasih Agla 🙂


“anda kurang beruntung” ndasmu

Seperginya dia, aku berusaha memejamkan mata dan ya tuhan biarkan aku tidur karena dia kembali lagi dengan marah-marah. Dia menceritakan bahwa teman-teman yang lain sudah mengambil foto sunset yang mulai menjadi khasnya setiap eksplorasi (tahun lalu sunrise) waktu dia lagi memberikan oleh-oleh.

Copy of IMG_8436.JPG
ini loh D:<   (c: Ceca)

 

Dan itu ternyata bukan cuman aku dan Agla, tapi juga Yla, Adinda, Ratri, Katyusha, Tata dan Syifa. Rata-rata cewek gak ikut, yang ikut hanya Anja dan Abel.

If that doesn’t say NOT WELL-DISTRIBUTED INFO, I don’t know what does  

Still salty, but y’all can’t bear to listen to a good argument so I’ll pass. Thanks.

Yah setelah itu ya gitu. Adinda dan Yla pulang dari Pulau Kelapa yang juga marah ketika diinfokan mereka tidak ikut foto. Tambah kesal lagi mendengar cerita Agla dimana ketika sampai disana Ceca mengatakan “Anda kurang beruntung”


Ayam goreng ibu yang enak

Malamnya kita makan malam di kamar sebelah lagi karena kalau malam Pak Nurhaji mengadakan kelas mengaji. Kami bertekad menghabiskan semua lauk malam ini karena tadi ketika aku meminta mengganti galon, ibu sempat menanya apakah kita suka ikan yang dia pegang. Jujur, aku gak tau ikan apa tapi aku iyain aja. Aku melihat kesempatan tepat untuk mengatakan bahwa teman serumahku pada kurang suka sambal, ibu sempat terlihat sedih dan mengatakan

“tapi sambelnya udah dibuat”

Duh gue salah ngomong kali nih

“Kalau gitu dipinggirin aja bu, nanti ada yang makan :D” aku berusaha mengobati suasana

Jadi makan malam ini kita diberikan sambal yang dipisah! Teman-teman terharu mendengarnya, mereka sangat sayang dengan keluarga Nurhaji, begitu juga aku.

Aku menghabiskan sebisaku malam itu, yaitu dua ayam, satu jagung, satu ikan? dan ya itu banyak banget bagiku. Ayamnya enak banget, kalian harus coba. Aku benar-benar terobsesi sama ayam goreng Ibu.

Sisa malamnya tidak ada yang menarik kecuali kita berniat bangun subuh untuk mengambil foto khusus tim kita di sunrise dan balas dendam yang gagal diundur.

Tapi yatuhan, malam itu adalah malam terburuk yang kualami. Lanjut ceritanya di jurnal sebelah aja deh yak. Kuy pindah jurnal ke hari keempat 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s